Gambia FGM Hak Perempuan

Ibu di Gambia Cemas Menanti Putusan MK Terkait Larangan FGM

Indonesia-Vietnam 2026-07-07 Gambia

Para ibu di Gambia diselimuti kecemasan mendalam saat Mahkamah Agung bersiap memutuskan nasib undang-undang larangan pemotongan genital perempuan (FGM).

Seorang ibu di Gambia menatap cemas masa depan putrinya.

Seorang ibu di Gambia menatap cemas masa depan putrinya.

Dilema Hukum FGM dan Tarung Budaya di Mahkamah Agung Gambia

Menjelang putusan Mahkamah Agung Gambia yang dijadwalkan pada hari Rabu, para ibu dan penyintas FGM (Female Genital Mutilation) didera rasa takut yang luar biasa. Keputusan hukum tertinggi ini akan menentukan apakah anak-anak perempuan mereka tetap terlindungi oleh regulasi negara, atau justru harus kembali menghadapi trauma fisik dan psikologis masa lalu yang pernah mereka rasakan sendiri.

Kekhawatiran ini kian memuncak setelah kasus kematian tragis bayi berusia tiga bulan pada akhir tahun lalu akibat praktik FGM terselubung di wilayah Wellingara. Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan, Gambia masih menjadi salah satu negara di Afrika dengan tingkat prevalensi FGM tertinggi, di mana sekitar 65 persen anak perempuan dipotong sebelum menginjak usia lima tahun, dan UNICEF memperkirakan tiga dari empat perempuan Gambia merupakan penyintas praktik ini.

Bagi para aktivis kemanusiaan dan korban, ancaman pembatalan undang-undang ini dinilai sebagai langkah mundur yang sangat berbahaya. Sarjo Kambi, salah satu penyintas, menceritakan kepedihannya saat putrinya sendiri dipotong secara rahasia oleh sang nenek tanpa izin ketika ia sedang bekerja. Ketika ia melapor ke pihak kepolisian untuk mencari keadilan, laporan tersebut justru ditolak dan dianggap hanya sebagai urusan internal keluarga semata.

Meskipun undang-undang tahun 2015 telah mengkriminalisasi praktik ini dengan ancaman hukuman penjara hingga tiga tahun, penegakannya di lapangan masih sangat minim sehingga FGM marak dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Desakan dari kelompok konservatif dan Dewan Islam Tertinggi Gambia yang menganggap tradisi ini bagian dari identitas budaya terus membayangi persidangan, sementara UNICEF mendesak pemerintah untuk tetap mempertahankan hukum demi melindungi hak dasar dan kesehatan anak.

Gambia FGM Hak Perempuan Mahkamah Agung Afrika Kesehatan Reproduksi
N

Hidayat Hamzah

Jurnalis Politik Senior - Indonesia-Vietnam

Wartawan senior dengan pengalaman meliput dinamika politik di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Menyajikan analisis mendalam tentang kebijakan publik, hubungan bilateral, dan isu strategis nasional.