Intervensi Donald Trump dan Fenomena "Kutukan" di Lapangan Hijau
Mimpi Amerika Serikat untuk melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026 harus kandas di Lumen Field, Seattle. Belgia tampil digdaya mengandaskan sang tuan rumah dengan skor mencolok 4-1 pada babak 16 besar. Charles De Ketelaere tampil sebagai momok utama dengan torehan dua gol dan satu assist, disusul gol dari Hans Vanaken serta Romelu Lukaku, sementara AS hanya mampu membalas lewat Malik Tillman.
Kekalahan memalukan ini langsung menjadi topik hangat di media sosial X, terutama setelah adanya kontroversi di luar lapangan yang melibatkan Presiden AS Donald Trump. Sebelum laga, Trump kedapatan mengintervensi FIFA agar membatalkan kartu merah penyerang Folarin Balogun. Meski permintaan itu dikabulkan dan Balogun bisa bermain, hasil akhir justru berbalik menjadi blunder yang memalukan bagi publik Negeri Paman Sam.
Read Also
Banyak warganet AS yang menyayangkan keterlibatan sang presiden karena dianggap mencoreng sportivitas tim nasional. "Jutaan penggemar sepak bola dunia kini memandang AS sebagai penipu yang menggunakan korupsi politik demi memengaruhi FIFA, dan sialnya kita tetap kalah," tulis jurnalis kawakan Ron Filipkowski lewat akun pribadinya. Sejumlah netizen bahkan menyebut insiden ini sebagai kelanjutan dari 'kutukan Trump' yang kerap membawa sial bagi tim olahraga yang didukungnya.
Di sisi lain, kekalahan telak ini menjadi momen tamparan keras yang membuat publik AS sadar diri akan kualitas sepak bola mereka yang belum mampu bersaing di level elite global. Para pengamat dan pencinta olahraga setempat menilai infrastruktur akademi serta sistem pelatihan teknis maupun taktis di Amerika Serikat masih tertinggal jauh dari negara-negara Eropa, membuat mereka kerap mempermalukan diri sendiri saat tampil di panggung terbesar.