Krisis Kemanusiaan dan Dampak Psikologis Anak di Jalur Konflik Sudan
Lembaga kemanusiaan internasional Save the Children memperingatkan bahwa ribuan anak di el-Obeid kini menghadapi kondisi hidup yang sangat memprihatinkan setelah terpaksa angkat kaki dari rumah mereka. Di lokasi pengungsian yang semakin padat, para keluarga imigran ini harus berjuang keras untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak, akses air bersih, fasilitas kesehatan, hingga layanan pendidikan dasar.
Kota el-Obeid yang dihuni oleh setengah juta jiwa merupakan jalur logistik kemanusiaan krusial untuk wilayah barat laut Sudan yang kini menjadi medan tempur antara tentara reguler dan paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Pengepungan berbulan-bulan yang disertai serangan drone intensif tidak hanya menghancurkan infrastruktur sipil dan tangki bahan bakar, tetapi juga memicu krisis air bersih serta lonjakan wabah kolera musiman.
Read Also
Francesco Lanino selaku perwakilan dari Save the Children menegaskan bahwa bagi seorang anak, kehilangan rumah berarti kehilangan seluruh jaringan pengaman yang membuat mereka merasa terlindungi. Organisasi tersebut mencatat bahwa anak-anak di bawah usia 18 tahun kini mendominasi populasi pengungsi di Sudan dengan persentase mencapai 55 persen, di mana mayoritas mengalami trauma berat akibat menyaksikan kekerasan secara langsung.
Dewan HAM PBB sendiri telah merilis mosi kecaman atas eskalasi serangan udara RSF di el-Obeid demi mencegah terulangnya pembantaian massal seperti yang terjadi di wilayah Darfur. Sejak pecah pada April 2023 akibat perebutan kekuasaan, perang saudara di Sudan yang kini memasuki tahun keempat telah menewaskan ribuan jiwa dan memaksa sekitar 4,4 juta orang mengungsi ke negara-negara tetangga.