Lelaki itu harus setia pada tanahnya, atau dia akan kehilangan haknya. Berdasarkan laporan dari SPORTbible, Argentina kini bersiap menghadapi Inggris di babak semifinal Piala Dunia pada hari Rabu di Atlanta setelah mengalahkan Swiss dengan skor 3-1 melalui babak perpanjangan waktu. Mereka tangguh dan mereka ingin menang lagi. Namun, sebuah aturan baru yang lahir di Buenos Aires pada Februari lalu bisa saja mengubah sejarah andai itu diterapkan lebih cepat. Aturan itu ketat, dingin, dan tanpa ampun.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut regulasi baru dari Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA), seorang pemain muda yang memilih pergi ke luar negeri tanpa menandatangani kontrak profesional di klub lokalnya tidak akan pernah diizinkan mengenakan jersi tim nasional. Ini adalah keputusan yang dibuat untuk melindungi klub-klub domestik dari kehilangan bakat terbaik mereka secara cuma-cuma. Mereka menyebutnya perlindungan, sebuah benteng untuk menjaga harta karun sepak bola mereka tetap di rumah.
Jika aturan ini ada dua dekade lalu, Lionel Messi tidak akan pernah menjadi kapten yang membawa mereka memenangkan trofi emas itu. Kita tahu Messi adalah bakat yang lahir dari keajaiban yang murni. Namun, dia meninggalkan Argentina saat masih anak-anak untuk pergi ke Barcelona. Berdasarkan kebijakan baru ini, tindakan seperti itu adalah dosa yang tidak termaafkan bagi tim nasional. Pemain yang mencetak 21 gol di Piala Dunia itu akan menjadi orang asing di timnya sendiri.
Bukan hanya sang kapten yang akan menanggung beban ini. Penjaga gawang Emiliano Martinez, yang kokoh di bawah mistar, juga akan mendapati dirinya diasingkan. Martinez meninggalkan akademi muda Independiente pada tahun 2010 untuk bergabung dengan Arsenal di Inggris ketika usianya masih sangat muda. Dia pergi mencari masa depan yang lebih baik, tetapi di bawah hukum yang baru, masa depan itu akan mengorbankan haknya untuk membela tanah air.
Berdasarkan informasi dari TyC Sports, aturan ini dipicu oleh kepindahan gelandang berusia 16 tahun, Lucas Scarlato, dari River ke klub Italia, Parma. Kepindahan itu terjadi menggunakan hukum otoritas orang tua atau "patria potestad", yang membuat klub lokal hanya menerima biaya pengembangan yang sangat kecil, bukan biaya transfer yang besar. Itu adalah tetes terakhir yang membuat cawan kesabaran para petinggi sepak bola di sana tumpah.
Javier Mendez Cartier, direktur tim muda AFA, berbicara dengan nada yang tegas dan tidak menyisakan ruang untuk perdebatan. "Berdasarkan keputusan Presiden kami dan Komite Eksekutif, administrasi AFA ini selalu berusaha membela kepentingan klub yang membina pemain. Siapa pun yang tidak memahami hal ini dan memilih menggunakan hak orang tua untuk beremigrasi tidak akan dipanggil ke tim nasional muda mana pun," katanya. Kalimat itu pendek, tajam, dan selesai.