Malam itu di lapangan, aroma rumput bercampur dengan keringat dan kekalahan yang getir. Spanyol baru saja menundukkan Argentina dengan skor 1-0 lewat gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu menit ke-106. Spanyol menjadi juara dunia untuk kedua kalinya, tetapi bagi Argentina, kekalahan bukanlah sesuatu yang bisa diterima dengan diam. Di bawah lampu stadion yang terang, amarah yang tertahan sepanjang laga akhirnya pecah.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Argentina bermain dengan gaya mereka sendiri, keras dan penuh siasat untuk menghentikan aliran bola Spanyol. Namun, petaka datang pada menit ke-93 ketika Enzo Fernández menerima kartu kuning kedua setelah melanggar Pau Cubarsi. Kehilangan satu orang membuat Argentina terpaksa bertahan rapat di area sendiri, menahan gempuran demi gempuran hingga akhirnya sundulan Nico Williams disambar oleh Ferran Torres menjadi gol tunggal yang menentukan segalanya.
Setelah peluit panjang berbunyi, ketegangan tidak mereda melainkan berpindah ke ruang yang lebih gelap. Leandro Paredes mendapat kartu merah setelah mencekik Eric Garcia dan menjatuhkan Gavi ke tanah. Menurut legenda sepak bola Alan Shearer di BBC, tindakan itu tidak memiliki tempat di lapangan hijau. "Paredes melayangkan dua atau tiga pukulan ke wajah seseorang. Kita tahu betapa menyakitkannya kekalahan, tetapi ada cara yang terhormat untuk menerima kekalahan," kata Alan Shearer.
Wayne Rooney juga memberikan pandangannya yang dingin terhadap situasi tersebut. Menurut Wayne Rooney, reaksi para pemain Argentina tidak mengejutkan dan sangat disayangkan. "Jika Anda kalah dalam pertandingan sepak bola, jadilah anggun dan tinggalkan lapangan. Apa yang mereka tunjukkan sangat buruk," tutur Wayne Rooney dengan nada kecewa melihat keributan yang juga melibatkan Nahuel Molina dan Rodri.
Namun, perseteruan yang paling tajam terjadi antara dua lelaki dewasa, Nicolas Otamendi dan Rodri. Mereka berdiri berdekatan, saling melempar kata-kata kasar. Berdasarkan laporan Marca, Otamendi menuduh Rodri dan rekan setimnya, Aymeric Laporte, telah memengaruhi wasit lewat pernyataan mereka sebelum pertandingan dimulai. Otamendi tidak bisa menahan kekesalannya malam itu.
"Bicaralah lebih sedikit, idiot. Kalian menghabiskan seluruh minggu dengan menangis. Anda dan Laporte, kalian berdua. Bukan begitu caranya. Kalian menangis kepada wasit sepanjang minggu, temanku," kata Nicolas Otamendi dengan geram kepada Rodri yang tampak terkejut dengan serangan verbal tersebut.
Kemarahan Nicolas Otamendi disulut oleh komentar Aymeric Laporte sebelum laga final digelar. Menurut pernyataan Aymeric Laporte sebelum pertandingan, dia sempat mengkritik gaya bermain Argentina yang dianggapnya terlalu agresif. Laporte menyatakan bahwa wasit harus melakukan tugasnya dengan baik agar pertandingan tidak menjadi kacau karena pelanggaran-pelanggaran keras yang sengaja dilakukan untuk merusak konsentrasi lawan.