Senyum Nisa mengembang lebar di halaman Kampus Universitas Esa Unggul, Tanjung Duren, Jakarta Barat, pada Sabtu. Jemarinya bergerak lincah merangkai bahasa isyarat di udara, menyapa setiap pengunjung yang datang ke kedainya. Sesekali perempuan tuli itu memperlihatkan layar telepon genggam miliknya, menerangkan menu teh dan pastry yang dia jajakan hari itu dengan penuh gairah.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Bagi Nisa, ruang di bazar tersebut bukan sekadar tempat mencari nafkah. Bazar yang digagas oleh Komunitas Isyart Universitas Esa Unggul ini menjadi panggung pembuktian bahwa keterbatasan fisik tidak mampu membelenggu kemandirian ekonomi. Dia berdiri di sana untuk menunjukkan bahwa kaum disabilitas mampu berkarya dan berwirausaha secara mandiri jika diberi kesempatan yang setara.
Menurut Dekan Fakultas Desain dan Industri Kreatif Universitas Esa Unggul, Indra Gunara, kegiatan ini merupakan manifestasi nyata dari komitmen kampus dalam membangun lingkungan pendidikan yang inklusif. Pihak universitas menegaskan bahwa setiap mahasiswa, tanpa terkecuali, memiliki hak yang sama untuk mengasah potensi diri mereka.
Berdasarkan keterangan dari Indra Gunara, banyak mahasiswa disabilitas yang memiliki kemampuan akademik maupun nonakademik yang luar biasa. "Banyak mahasiswa disabilitas memiliki kemampuan akademik maupun nonakademik yang tidak kalah, bahkan mampu bersaing dengan mahasiswa lainnya. Karena itu, mereka perlu memperoleh ruang untuk mengembangkan potensi, termasuk melalui kewirausahaan," ujar Indra pada Sabtu.
Berdasarkan data kepanitiaan, bazar dalam rangka memperingati hari jadi pertama Komunitas Isyart ini diikuti oleh 14 pelaku UMKM yang mayoritas digerakkan oleh penyandang disabilitas tuli. Ragam produk dipamerkan, mulai dari kuliner khas, minuman segar, kerajinan tangan kreatif, hingga pembukaan kelas singkat bahasa isyarat untuk umum.
Menurut penuturan panitia kegiatan, Suster Prima Tarcicia FMM, acara ini dirancang sebagai jembatan yang meruntuhkan sekat pemisah antara kaum disabilitas dan masyarakat luas. "Kami ingin Komunitas Isyart menjadi ruang yang mempertemukan semua orang tanpa sekat. Di sini, teman-teman tuli tidak hanya belajar dan berorganisasi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menunjukkan karya, membangun kepercayaan diri, dan tumbuh bersama masyarakat," kata Suster Prima.