Dahulu rumah menjadi tempat perlindungan terakhir dari badai ekonomi luar ruangan. Namun kini, dinding penahan itu mulai runtuh. Menurut data ekonomi terbaru, biaya untuk menikmati hiburan di dalam rumah terus merangkak naik, memaksa banyak orang untuk berpikir ulang sebelum menyalakan televisi atau konsol game mereka.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan analisis data eksklusif dari PNC Financial Services, tekanan harga yang meningkat telah membuat rata-rata konsumen mengurangi pengeluaran untuk hiburan rumah secara signifikan. Penurunan ini paling terasa di kalangan konsumen generasi Z dan milenial, yang masing-masing telah memotong transaksi mereka sekitar empat persen.
Gelombang kenaikan harga ini didorong oleh kebijakan dari beberapa perusahaan terbesar di dunia, termasuk Amazon, Apple, Disney, dan Netflix. Akibatnya, hobi yang biasa dilakukan di waktu senggang seperti menonton film streaming atau bermain video game kini mulai menguras isi dompet para konsumen.
Bagi Alyx Green, video game telah menjadi hobi utama selama beberapa dekade. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ia merasa terasing oleh harga. "Harganya terus naik," kata Green dingin. "Sangat sulit untuk mengikutinya sekarang."
Menurut Brian LeBlanc, ekonom senior di PNC, fenomena ini menandai babak baru dari inflasi hiburan. "Funflation kembali pada tahun 2026," kata LeBlanc. Fenomena yang awalnya melanda konser dan acara olahraga pascapandemi di Amerika Serikat kini telah menyusup ke ruang tamu masyarakat.